Essay Argumentatif Psikologi Sosial

Contoh Essay atau Esai – Selamat datang sobat ibnudin. Gimana akhir pekan kalian? Masih ditemani dengan tugas-tugas sekolahan atau kampus? hehe. Yang penting tetap semangat sob mencari ilmu, yakinlah tidak ada ruginya.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis akan berbagi tentang contoh essay. Sebelumnya ibnudin juga sudah mengulas contoh makalah yang baik dan benar.

Tentu kamu pernah mendapatkan tugas membuat essay atau malah sekarang sedang mengerjakan tugas ini. Penulis akan mengulas pengertian, jenis dan contoh essay atau esai untuk sobat.

Langsung saja berikut ini penjelasan contoh essay (esai). Jangan lupa menggunakan menu daftar isi untuk memudahkan mencari bab yang kamu cari!.

DAFTAR ISI

Pengertian Essay (Esai)

Essay atau esai merupakan karangan berbentuk prosa yang mengulas mengenai masalah secara singkat dengan sudut pandang penulis. Bisa juga pengertian esai adalah kerangka tulisan opini dari penulis dalam menilai suatu masalah.

Dalam penulisan esai dalam berbentuk formal dan informal. Untuk jenis esai formal menggunakan bahasa yang baku. Sedangkan untuk esai informal dalam penulisannya dapat menggunakan bahasa percakapan, semisal sedang mengajak pembaca berbicara. Bila masih bingung kamu bisa memperhatikan berbagai contoh essay yang penulis di akhir nanti.

Kunjungi juga : Contoh Daftar Riwayat Hidup atau Curriculum Vitae

Jenis jenis Essay

Ada beberapa jenis esai yang memiliki tujuan penulisan yang berbeda-beda. Setiap jenisnya memiliki cara penulisan dan objek tulisan yang berbeda pula. Banyak contoh essay dari berbagai jenis yang dapat kamu jadikan referensi.

Pembagian jenis essay secara garis besar dibedakan berdasarakan tujuan penulisan dan macam-macam masalah yang yang dibahas. Untuk selengkapnya berikut ini jenis esai:

Jenis Esai Berdasarkan Tujuan Penulisan

Di bawah ini ada enam jenis jenis esai berdasarkan tujuan penulisannya lengkap dengan ulasan singkatnya.

  1. Esai Cerita

Jenis esai cerita adalah esai yang memiliki tujuan untuk menggambarkan sesuatu, semisal benda atau manusia. Dengan harapan para pembacanya dapat membayangkannya.

Oleh sebab itu, tujuan dari penulisan esai cerita adalah untuk membuat pembaca dapat merasakan seolah-olah dia sedang berada ditempat tersebut. Semisal, pembaca dapat membayangkan tempat, bentuk, mendengar suara, merasakan rasa dan bau dari sesuatu yang ditulis oleh penulis esai.

Bisa dikatakan, esai  menginginkan agar pembaca mendapatkan kesan-kesan dari pengalaman penulis terhadap suatu kejadian.

  1. Esai Paparan

Esai paparan adalah jenis essay yang menjelaskan sesuatu secara sangat rinci kepada pembaca tulisan. Sedangkan untuk tujuannya adalah untuk memberikan pendidikan dan informasi untuk pembaca esai.

  1. Esai Argumentatif

Jenis esai argumentatif memiliki tujuan untuk membuat pembacanya yakin akan ide atau pandangan penulis terkait suatu isu. Esai Argumentatif berusaha untuk menjelaskan kebenaran dari ide penulis dengan penjelasan dan fakta-fakta. Tentu hal tersebut dilakukan supaya pembaca menyetujui ide yang digagas penulis.

  1. Esai Lukisan

Jenis esai lukisan adalah karangan yang berusaha menggambarkan sesuatu keadaan. Dengan harapan para pembaca esai dapat lebih memahami suatu yang hal.

  1. Esai Ajakan

Jenis esai ajakan memiliki beberapa kemiripan dengan esai argumentatif. Yang membedakannya adalah tujuan dari jenis esai ini bersifat persuasif yaitu ajakan dari penulis untuk para pembaca tulisannya. Ajakannya bisa berupa untuk mengikuti penulis atau sebaliknya menghentikan suatu hal.

Jenis Esai Berdasarkan Macam Permasalahan

Berikut ini ada tujuh jenis esai berdasarkan macam-macam permasalahan dengan ulasan singkatnya.

  1. Esai Deskriptif

Jenis esai deskriptif adalah esai yang menjelaskan atau mendeskripsikan suatu benda atau subjek manusia. Beberapa permasalahn yang sering diangkat pada jenis esai semisal hewan. tanaman, dan tokoh-tokoh.

  1. Esai Tajuk

Jenis esai tajuk adalah esai yang ada di surat-surat kabar dan menjadi tempat masyarakat dalam menyampaikan pendapatnya. Semisal pendangan masyrakat terhadap suatu masalah yang sering dialami oleh mereka. Dengan tujuan agar diperhatikan oleh pihak yang terkait, contohnya pemerintah daerah masyarakat tersebut.

Esia tajuk juga sering digunakan untuk mengangkat isu-isu yang sedang hangat. Semisal tentang kondisi perpolitikan negara, ekonomi dan masih banyak lagi.

Selain itu, isu-isu kecil yang menjadi perbincangan masyarakat juga sering ditulis dalam bentuk tajuk. Contohnya fenomena yang dulu pernah ramai yakni om telolet yang ramai dibicarakan.

  1. Esai Cukilan Watak

Jenis esia cukilan watak merupakan esia yang memungkinkan penulisnya memasukan beberapa watak dari seseorang berkaitan dengan suatu isu. Namun tidak menjelaskan secara detail tokoh yang sedang diambil wataknya. Melainkan hanya sedikit menggunakan watak dari tokoh tersebut.

  1. Esai Pribadi

Jenis esai pribadi adalah penulisan esai yang mengungkapkan secara jelas pendapat pribadi penulis terkait suatu isu. Esia pribadi hampir mirip dengan esia cukilan watak. Yang membedakannya terletak pada pemakaian pendapat pribadi antara yang sepenggal saja dengan keseluruhan.

  1. Esai Reflektif

Jenis esai reflektif adalah esai yang menekankan pada perenungan terhadap suatu keadaan. Semisal kondisi politik, kebijakan dari pemerintah dan masih lagi. Pada intinya mengajak pembacanya untuk merenungi tema yang diangkat penulis. Umumnya jenis esai reflekstif ditulis oleh para pakar dari berbagai bidang tertentu.

  1. Esai Kritik

Jenis esai kritik adalah esia yang berisi penilaian baik dan buruk, kelebihan dan kekurangan sesuatu objek. Semisal karya seni berupa lukisan, dilihat dari sisi plus dan minusnya. Esia ini akan banyak mengulas objek tersebut dari berbagai sisi. Hasil akhir dari penilitian tersebut ditulis dalam bentuk esai.

  1. Esai Artikel Penelitian

Jenis esai artikel penelitian adalah esai yang mengulas mengenai hasil dari suatu penelitian. Secara umum, jenis artikel ini akan memberikan tambahan wawasan pada tema yang dibahasnya. Atau setidaknya mengecek ulang suatu penelitian yang telah lampau dan dibandingkan dengan kondisi sekarang. Contoh essay artikel penelitian seperti yang berjudul Pengaruh Minat Baca Dan Ketersedian Buku Bacaan Terhadap Prestasi Belajar Murid SMP.

Cara Membuat Essay Yang Benar

Seperti yang telah dijelaskan tadi, esai merupakan karya tulis yang berisikan opini dan pandangan seseorang terkaitu suatu masalah. Sebuah opini tentu akan sulit berkembang bila hanya didiamkan saja, sebab itu opini tersebut ditulis dalam sebuah essay.

Untuk mengetahui bagaimana cara membuat essay dengan baik dan benar. Berikut ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

  1. Menentukan tema yang menarik

Sebelum menulis sebuah essay, tentukan terlebih dahulu essay apa yang ingin Anda tulis. Sebuah tema yang bagus akan mempengaruhi isi keseluruhan essay tersebut. Oleh karena itu, pilihlah tema yang sedang hangat – hangatnya terjadi, sehingga para pembaca mau meluangkan waktunya untuk membaca essay yang akan Anda tulis.

Tentu dalam menulis essay perlu untuk memikirkan tema apa yang akan ditulis. Dalam pemilihan tema usahakan pilih yang semenarik mungkin. Bisa dengan menulis berita-berita yang sedang trend di masyarakat. Hal tersebut akan menarik banyak orang untuk membaca karya esaimu.

  1. Mengumpulkan data

Ketika tema sudah dipilih langkah selanjutnya adalah mengumpulkan data-data. Bisa melalui buku-buku yang relevan dengan tema, atau juga dari sumber-sumber yang lain semisal internet. Kegiatan ini dilakukan agar argument yang disampaikan menjadi kuat.

Akan lebih baik jika esai diberikan beberapa data-data lapangan, semisal fakta kejadian, teori dan masih banyak lagi. Hal ini akan membuat karya essay menjadi lebih baik. Bila essai yang kamu tulis tidak terdapat sama sekali data pendukung, maka bisa jadi tulisanmu tidak akan dianggap oleh siapapun.

  1. Membuat kerangka essai

Sebelum menulis biasakan untuk membuat kerangka. Sebab saat proses penulisan, kerangka akan sangat memudahkanmu untuk menulis. Tujuan dari pembuatan kerangka atau outline juga agar tulisan tetap sesuai tema yang kamu pilih. Sehingga karya esai kamu lebih sistematis dan logis.

  1. Memperhatikan pemilihan kata

Karya tulis esai bisa dikatakan baik jika menggunakan bahasa yang baik pula. Pada umumnya contoh essay menggunakan bahasa formal. Namun kamu juga harus tetap memperhatikan siapa yang kamu tuju untuk membaca tulisan ini. Semisal bila untuk orang intelektual tentu menggunakan bahasa yang intelek. Sedangkan jika untuk masyarakat umum gunakan bahasa yang ringan namun tetap dalam koridor bahasa formal.

Pada intinya bagaiamana caranya agar target pembaca esai yang kamu buat dapat dipahami dengan baik.

Setelah melakukan step-step diatas, kamu bisa untuk memulai menulis esai. Tetap perhatikan dan fokus saat mengerjakan karya esai. Buatlah sebaik mungkin, agar para pembaca tulisanmu puas dan mendapat banyak manfaat. Bila masih kesulitan, kamu dapat melihat contoh essay di bawah ini.

Contoh Essay

Berikut ini beberapa contoh essay atau esai yang dapat kamu jadikan bahan referensi ketika membuat tugas esaimu. Selain tulisan teks dibawah ini, penulis juga berikan link download contoh essay pdf dan doc.

Apakah Sufisme Dapat Mempengaruhi Motivasi Hidup?

Dalam kondisi masyarakat modern saat ini, dimana banyak hal memudahkan pekerjaan manusia, seperti komunikasi dan transpotasi. Namun, pada kenyataannya kemudahan-kemudahan tersebut tidak menjadikan manusia modern memiliki motivasi hidup yang tinggi.  Hal ini terlihat dibeberapa negara maju, angka kematian yang disebabkan karena bunuh diri semakin tinggi. Sebagai contoh di negara jepang, media kompas menulis bahwa tahun 2016, angka kematian akibat bunuh diri mencapai 21.897 orang. Angka kematian tersebut menempatkan jepang sebagai negara maju dengan angka kematian akibat bunuh diri tertinggi di dunia, disusul oleh negara amerika dan inggris. Ini membuktikan, kemudahan dalam menjalani hidup di negara maju tidak selalu menjadikan seseorang memiliki motivasi hidup yang tinggi.

Kata motivasi berasal dari istilah latin yang berarti bergerak. Sehingga, motivasi dapat diartikan sebagai faktor penggerak manusia. Sedangkan motivasi hidup adalah penggerak manusia untuk bertahan dan melanjutkan kehidupan. Motivasi bisa dikatakan kunci sebagai penentu keberhasilan hidup manusia. Dapat ibaratkan motivasi adalah mesin dari sebuah motor, yang berfungsi menggerakkan motor. ketika motor tidak memiliki mesin maka motor tidak akan mampu berfungsi sesuai dengan yang diharapkan, yaitu bergerak atau berjalan dijalanan.

Sumber motivasi pun juga beragam, ada yang memiliki motivasi hidup karena harta yang diimpikan, jabatan yang tinggi dimasyarakat, atau bahkan kekuasaan ditengah-tengah masyarakat. Beberapa contoh tersebut hanya motivasi dalam bentuk materi saja, sesuatu yang tampak yang dapat dinikmati panca indera saja. Namun yang jadi pertanyaan, apakah hanya sesuatu yang bersifat materiil saja yang mempengaruhi sumber motivasi hidup seseorang? Tentu tidak, mungkin bagi bangsa barat sesuatu yang bersifat materiil adalah motivasi utama atau bahkan satu-satunya. Namun bagi bangsa timur, ada sesuatu yang melekat erat ditubuh bangsa ini yang senantiasa memberikan sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan, yakni spiritualitas.

Spiritualitas secara bahasa berasal dari kata spirit. Spirit merupakan bagian terdalam dari jiwa, dan sebagai alat komunikasi atau sarana yang memungkinkan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan.  Spiritualitas lebih menekankan pada pengalaman pribadi, yang dapat berupa pengalaman-pengalaman mistis atau supranatural. Dalam agama islam, terdapat sebuah cabang kajian yang lebih menekankan pada pengalaman pribadi, yakni tasawuf atau sufisme. Dalam tulisan ini mencoba menjabarkan mengenai spiritualitas dalam islam yakni sufisme dapat mempengaruhi motivasi hidup atau kah sebaliknya.

Motivasi

Seperti yang telah disinggung diatas, bahwa motivasi adalah penggerak manusia. Orang-orang Yunani dulu mengira bahwa gerakan dengan inisiatif diri disebabkan oleh suatu ruh. Manakala “ruh itu digerakkan”, maka bergeraklah objek atau tubuh yang ditempati oleh ruh itu. Dalam tradisi islam di jawa, kerap kali mengatakan bahwa manusia hidup karena ada roh didalam tubuh, yang menggerakkan tubuh manusia dan ketika roh itu hilang tubuh pun akan berhenti (mati).

Definisi mengenai motivasi sangat beragam dalam psikologi. Definisi sederhana dari motivasi adalah segala sesuatu yang merangsang, mendorong dan mengarahkan tingkah laku. Oleh karena itu motivasi identik dengan proses tingkah laku yang dimunculkan dan diarahkan, dalam prosesnya juga bervariasi dalam arahan, intensitas serta durasi yang berbeda pada tiap individu. Beberapa teori psikoterapi sungguh-sungguh telah merumuskan suatu ruh atau kekuatan yang tersimpul di dalam diri, yang mendorong kita menapaki sepanjang jalan kehidupan ~ mereka menyebutnya mind, cosmic force atau libido. Tapi, kata soul (jiwa) sendiri merupakan istilah yang secara akademis tidak terima, kecuali dalam aliran Jungian.

Ada dua teori mengenai motivasi yang memandang motivasi bersifat mekanistik atau kognitif. Pertama, analisis mekanistik melihat tingkah laku ada, karena dimulai baik oleh adanya stimulus eksternal, atau karena stimulus internal. Contoh stimulus eksternal berupa cuaca yang panas dan stimulus internal berupa rasa haus. Dari dua stimulus tersebut kita akan bereaksi, karena cuaca yang panas dengan mencari tempat berteduh sekaligus meminum air untuk menghilangkan rasa haus. Bila respon yang kita lakukan dapat menghilangkan atau memenuhi keinginan kita maka bisa menjadi kebiasaan, namun sebaliknya bila tidak memberi kepuasan, maka akan mengalami kondisi kebosanan.

Kedua, teori kognitif menganggap bahwa berpikir tentang informasi yang akan masuk serta faktor lain yang akan turut berpengaruh sebagai hal yang penting untuk menentukan respon tingkah laku terhadap stimulus. Sebagai contoh sikap pribadi seseorang dan pengaruh-pengaruh sosial sangatlah penting dalam mengambil keputusan dan demikian pula, menyangkut motivasi.

Untuk memahami apa yang membuat orang melakukan sesuatu atau tidak sama sekali, banyak ahli teori yang berbalik kepada “kebutuhan” (Need) sebagai konsep. Para ahli membagi berbagai motif ke dalam kebutuhan-kebutuhan, antaralain , Biologis berupa lapar, haus, seks ; Emosi berupa mendekat dan menjauh ; Sosial berupa kasih sayang (hubungan dengan orang lain), kekuasaan ; Bermain dan pencapian motivasi: bermain, eksplorasi, pencarian stimulasi prestasi.

Motivasi juga disebut sebagai daya pendorong atau penarik, bisa dikatakan bahwa ketika melakukan sesuatu kita terdorong untuk menempatkan diri pada kondisi yang nyaman karena disebabkan terhambatnya pemenuhan kebutuhan dasar, misalnya air dan makanan. Daya penarik yang dihasilkan oleh suatu tujuan disebut memiliki nilai insentif. Sebagai contoh ketika kita merasa lapar sedang yang ada didepan mata adalah seekor kucing, tentu kita tidak akan tega memakannya.

Tokoh psikologi humanistik, Abraham Maslow memandang motivasi berasal dari kebutuhan-kebutuhan dasar manusia yang ia anggap berlaku universal. Kebutuhan-kebutuhan fisik penting bagi pertahanan hidup yang sangat mendasar. Ia menyakini kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi hanya muncul jika kebutuhan-kebutuhan fisik sudah terpenuhi sebelumnya. Ia menganggap dua level kebutuhan dasar sebagai tahap yang paling rendah, dan level-level yang lebih tinggi adalah kebutuhan untuk berkembang. Maslow menganggap level aktualisasi diri sebagai sesuatu yang diluar kebutuhan metaneeds.

Teori-teori diatas lebih banyak menekankan pada kebutuhan fisik manusia, dan tak ada yang membahas mengenai kebutuhan manusia yang bersifat metafisik. Banyak kasus terutama kisah mengenai Nabi dalam agama, mereka berjuang dengan segenap keyakinan untuk membela dan mendakwahkan apa yang mereka yakini, bahkan sampai nyawa taruhan mereka. Ada lagi fenomena akhir-akhir ini, banyak terjadi bom yang pelakunya percaya bila ia mati (syahid) akan masuk surga. Saya kira hal tersebut juga masuk pada ranah motivasi yang kuat, sehingga yang melakukannya rela memberi apa saja yang ia punya bahkan nyawanya. Kalau menurut dr. Lynn, hal ini tampaknya adalah motivasi yang tertinggi, melampaui semua kebutuhan fisik.

Sufisme dan Motivasi Hidup

Pada periode pertengahan (Islam), sufisme diangap sebagai penyebab kemunduran peradaban Islam dan ketertinggalan umat islam. Ajaran-ajran sufisme ditengarahi menyebabkan manusia yang mengamalkannya menjadi lemah berjuang dalam kehidupan, bahkan memiliki kerendahan menjalani hidup. Contoh sikap yang paling mendasar dari sufisme, yaitu zuhud. Arti kata Zuhud ialah tidak ingin, tidak tertarik kepada dunia, kemegahan, harta benda dan pangkat. Sehingga orang yang melakukan zuhud adalah orang  yang tidak ingin, tidak tertarik kepada dunia, kemegahan, harta benda dan pangkat.  Secara definisi, bisa kita gambarkan sikap zuhud ini seperti sikap yang “anti” terhadap dunia dan terkesan menjauhi, bila dipahami sekilas hal ini dapat menjadi sebab kurang termotivasinya orang menjalani hidup. Ada juga, pelaku tasawuf yang berkhalwat (menyendiri) di tempat terpencil, bisa gua atau gunung-gunung atau tempat yang sepi dari kehidupan.

Bagi orang materialisme, sikap-sikap sufisme (zuhud, khalwat) adalah penghalang dalam menjalani kehidupan, karena ia tak memiliki hasrat untuk mengembang diri. Bila dilihat dari sudut pandang teori Abraham Maslow, sikap zuhud bisa menjadi penghambat manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dan bila kebutuhan tersebut tak terpenuhi dapat menyebabkan penyimpangan perilaku hidup. Dari hal tersebut sufisme cenderung menurunkan motivasi hidup.

Namun, bila dikaji secara mendalam, sufisme memiliki nilai-nilai yang mampu membangkitkan motivasi hidup. selain itu, dalam pemaknaan zuhud mengalami perubahan pada masa modern seperti menurut Nurcholish Madjid, zuhud versi sufisme lama cenderung mengajarkan kepasifan dan sikap anti-dunia sementara zuhud modern menekankan keaktifan, progresif, dan konstektual untuk memenuhi kebutuhan umat. Sehingga kurang lebih zuhud dapat dimaknai mengesampingkan dunia dan zuhud tak lebih sekadar membatasi keinginan manusia, karena bila manusia tak dibatasi akan menimbulkan sikap yang merugikan diri dan orang lain, semisal ketamakan.

Amin syukur berpendapat bahwa zuhud dalam tasawuf dikenal sebagai maqam untuk menuju pada jenjang kehidupan tasawuf, namun disisi yang lain zuhud merupakan moral islam. Dalam posisi ini, menurutnya zuhud bukan berarti suatu tindakan pelarian dari dunia nyata sebagaimana pernah dipraktikkan para sufi klasik, akan tetapi suatu usaha mempersenjatai diri dengan nilai-nilai ruhaniyah baru yang akan menegakkannya saat menghadapi problema hidup dan kehidupan yang serba materialistik dan berusaha merealisasikan keseimbangan  jiwanya sehingga timbul kemampuan menghadapinya dengan siap jantan.

Ada beberapa ajaran tasawuf yang dapat menjadi bagian dari motivasi hidup manusia, antara lain, Futuwah, Itsar dan Suhbah. Sikap Futuwaah berarti sikap kesantriaan, kepahlawanan atau keprawiraan. Sikap ini mengajarkan setiap manusia untuk gagah berani membela kebenaran dan memiliki akhlak yang baik. Kemudian, Itsar dalam kata lain yaitu altruism yang berarti sikap lebih mementingkan orang lain. Sikap ini mengajarkan bahwa keinginan pribadi bukan menjadi sebab kita bahagia, kepedulian terhadap orang lainnya yang kadang kala memberi penyemangat manusia menjalani hidup. Sehingga sering kali kita temui orang yang hidup bukan untuk kepentingan diri sendiri namun untuk orang lain dan mereka menjalani dengan nikmat.

Selanjutnya yang ketiga adalah Suhbah, Al-Qur’an menggunakan kata “sahiba ” untuk menunjukkan hubungan yang sangat erat antara kedua orang karena seringnya berinteraksi (katsurat mulâzamah). Sikap suhbah mengajari manusia untuk berinteraksi atau memiliki hubungan yang kontinyu terhadap orang lain. Walaupun pada pengertiannya lebih merujuk pada interaksi seorang murid dan guru sufisme, namun hal ini juga dapat diterapkan pada kehidupan umum. Kalau dalam psikologi behavior, lingkungan menjadi faktor utama pembentukkan perilaku, maka sikap Suhbah termasuk sebagai dorongan untuk dapat berinteraksi terhadap lingkungan dengan baik.

Hal yang ingin saya garis bawahi pada tulisan ini adalah sufisme atau tasawuf, walaupun berasal dari ajaran atau konsep yang tua (atau lama yakni sejak abad 7 M), ajaran ini terus mengalami dinamika yang menarik. Sufisme terus mencoba menempatkan diri pada setiap masa, salah satunya masa modern kala ini. Dan juga sufisme memiliki nilai-nilai ajaran yang dapat membangkitkan “jiwa” manusia, walaupun memang yang diharapkan dari sufisme bukan motivasi yang bersifat materil, namun lebih pada motivasi hidup yang bernuansa spiritual.

Selain itu, banyak pula gerakan sufisme yang mencerminkan adanya gerakan (motivasi secara arti) yang bernuansa sosial-kemasyarakatan. Seperti yang terjadi di Turki, ada sebuah gerakan sufisme bernama hizmet atau Gulen-Movement, sebuah gerakan yang dipelopori oleh tokoh sufisme modern, fethullah gulen dari turki. Hizmet merupakan gerakan masyarakat yang memberikan sumbangsih tanpa mengharapkan imbalan. Gerakan yang murni ini bisa jadi sebuah hasil dari motivasi hidup yang ingin ditularkan kepada yang lain.

Kesimpulan

Sufisme atau tasawuf selayaknya dipandang secara positif, dilihat dari berbagai peranannya terutama beberapa dekade belakangan ini cukup banyak. Dalam hal motivasi hidup, sufisme memberikan sebuah alternatif bagi para manusia dimasa saat ini. Ketika banyak orang kehilangan tujuan hidup, angka kematian yang tinggi dan hilangnya makna hidup manusia, sufisme menunjukan masih adanya harapan, tujuan untuk hidup. Motivasi hidup yang ditawakan sufisme menekankan pada aspek spiritual dan sosial, spiritual sebagai hubungan transenden dan sosial sebagai wujud dari kecintaan kepada Tuhan. Karena tak cukup mencintai sang Pencipta tanpa mencintai yang diciptakan.

Sekian ulasan mengenai contoh essay dan cara membuat essay dengan benar, beserta pengertiannya, jenis dan cara membuat essay. Semoga bermanfaat dan terima kasih telah membaca, jangan lupa bagikan kepada sahabat-sahabatmu.

Kategori Edukasi

KEKERASAN DALAM BERPACARAN, HANYA SOAL WAKTU

Laras Sekar Melati, 1006664073

Sering kita melihat belakangan ini – pada berita-berita kriminal atau infotainment – kasus-kasus mengenai kekerasan dalam berpacaran  yang merebak terjadi pada pasangan kekasih. Atau mungkin di antara kita ada yang pernah melihat orang-orang terdekat, bahkan dirinya sendiri mengalami kekerasan dalam berpacaran yang sekarang kerap disingkat menjadi KDP. Salah satu kasus yang baru-baru ini terjadi adalah kasus yang menimpa seorang mahasiswi bernama Leni Oktavia yang dituntut hukuman penjara selama 4 bulan. Padahal, tuduhan jaksa yang menyatakan dirinya menyiram air panas kepada mantan pacarnya adalah semata-mata karena alasan pembelaan diri atas perbuatan tidak senonoh pacarnya. Ia telah berpacaran selama 2 tahun dan ia cukup sering mendapatkan tindak kekerasan dari pacarnya, seperti ditampar, dijambak dan dicekik (detiknews.com).

Kasus lainnya adalah yang pernah terjadi pada seorang penyanyi internasional, Rihanna. Ia mengalami kekerasan yang dilakukan oleh kekasihnya, Chris Brown, pada suatu malam saat mereka dalam perjalanan pulang dari sebuah acara di Los Angeles pada tahun 2009. Saat itu, Rihanna mengalami tindakan pemukulan, pencekikkan dan terdapat beberapa bekas gigitan pada tangannya karena diawali oleh pertengkaran ringan (huffingtonpost.com). Dalam beberapa pertengkaran sebelumnya, Rihanna juga sering mendapatkan perlakuan tersebut dari Chris Brown. Mereka telah berpacaran selama 1,5 tahun, hingga akhirnya Rihanna memutuskan untuk mengakhiri hubungan tersebut.

Kasus pertama dan kasus kedua sama-sama menunjukkan bahwa lama berpacaran kedua pasangan tersebut dapat tergolong lama, yaitu lebih dari satu tahun. Dari fakta tersebut timbullah sebuah pertanyaan di dalam kepala saya yaitu, “Apakah lama berpacaran dapat mempengaruhi tingkat agresivitas seseorang terhadap pasangannya?”. Jika saya mengacu pada kedua kasus tersebut, saya dapat mengambil thesis statement bahwa semakin lama seseorang berpacaran, semakin meningkat pula agresivitas orang tersebut dengan pasangannya.

Agresi yang muncul dalam hubungan berpacaran bisa muncul dalam berbagai bentuk. Dalam  Kuffel dan Katz (2002), agresi dalam hubungan berpacaran dapat dikategorikan menjadi physical violence, psychological abuse dan sexual coercion. Mendorong, memukul, menampar dan melempar benda-benda dapat dikategorikan dalam physical violence. Psychological abuse sendiri dapat berupa teriakkan, penghinaan serta pemberian nama atau panggilan-panggilan tertentu. Sedangkan sexual coercion adalah tindakan yang melibatkan pemaksaan terhadap pasangan yang tidak menginginkan aktivitas seksual dengan menggunakan kekerasan verbal maupun fisik (Katz, Carino & Hilton, 2002).

Tedapat banyak faktor yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan agresi dalam hubungan berpacaran. Sherer (2009), di dalam penelitiannya memasukkan cukup banyak variabel yang kemungkinan dapat mempengaruhi tindak kekerasan dalam suatu hubungan berpacaran, antara lain: karakteristik personal subjek (suku bangsa, gender, penggunaan alkohol, self-esteem, tingkat pendidikan, religiuitas keluarga), pengaruh peer group, dan dating relationships (lama dan/atau pentingnya hubungan tersebut). Variabel terakhir ini lah yang menurut saya cukup menarik untuk dibahas karena masih cukup banyak diperdebatkan.

Jika kita jawab permasalahan ini menggunakan logika, pasangan yang baru menjalin suatu hubungan akan memiliki kemungkinan yang cukup kecil untuk terjadinya kekerasan di dalam hubungan tersebut. Pasangan baru tentu sedang menjalani suatu proses yaitu pengenalan. Pada fenomena sehari-hari yang saya lihat dan saya alami, seseorang yang sedang dalam proses pengenalan dengan pasangan barunya akan cenderung menampilkan sisi-sisi baiknya kepada pasangannya. Hal ini ditujukan agar pasangan tertarik untuk menjalin hubungan lebih lanjut dengannya dan agar pasangan tidak “lari” dari dirinya. Setelah pasangan sudah mengenal satu sama lain, biasanya akan lebih mudah bagi seseorang untuk berbuat sesuatu yang ia inginkan kepada pasangangannya tanpa merasa sungkan. Hal-hal tersebut termasuk pada tindakan-tindakan yang kadang menyakitkan bagi pasangan, seperti membentak atau memukul.

Selain itu, pasangan yang baru menjalani suatu hubungan biasanya belum memiliki konflik di dalam hubungannya.  Hal ini bisa jadi disebabkan karena perasaan cinta yang ditunjukkan kepada pasangan pun masih cenderung intens dan menggebu-gebu. Biasanya, pada pasangan yang sudah lama menjalin hubungan, akan timbul konflik-konflik yang dapat memancing emosi dan kemarahan masing-masing pasangan. Ketika emosi tersebut memuncak, maka tindakan agresif juga memiliki kemungkinan untuk muncul dan dilampiaskan kepada sang pasangan. Komitmen yang terjalin pada pasangan baru juga belum sedalam dan seserius pasangan yang sudah lama menjalin hubungan. Hal ini dikarenakan pasangan baru masih belum banyak membicarakan hal-hal yang lebih dalam mengenai hubungan yang mereka jalani. Jika sudah lebih sering membicarakan topik-topik yang berkaitan dengan hubungan, biasanya pasangan akan lebih sensitif dengan kondisi hubungan mereka.

Tidak hanya fenomena dan pengalaman sehari-hari yang dapat menjawab permasalahan ini. Terdapat beberapa jurnal yang menunjukkan hasil yang dapat mendukung thesis statement saya sebelumnya. Dalam Hammock dan O’Hearn (2002) disebutkan bahwa dimensi keseriusan dan lama berpacaran memiliki hubungan dengan tingkat agresivitas dalam berpacaran, walaupun terdapat aspek-aspek lain yang juga mempengaruhinya. Tingkat keseriusan dan lama berpacaran dapat mempengaruhi agresivitas dalam suatu hubungan karena berkaitan dengan waktu yang di habiskan bersama pasangan. Hubungan yang sudah lama, di mana pasangan sudah menghabiskan waktu cukup sering dengan yang lainnya, akan cenderung memunculkan agresivitas dibandingkan dengan pasangan yang baru atau pasangan yang jarang bertemu (Hammock & O’Hearn, 2002). Dengan kata lain, semakin sering seseorang berinteraksi dengan pasangannya, maka akan meningkat pula posibilitas munculnya konflik dalam suatu hubungan sehingga dapat juga memunculkan agresi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Shulman dan Scharf (2000, dalam Rivera, 2008) juga menyebutkan bahwa lamanya berpacaran meningkatkan komitmen dan kedekatan yang mungkin menyebabkan resiko munculnya agresi pada suatu hubungan. Hal ini sebagian besar terjadi pada laki-laki di mana ketika suatu hubungan telah memiliki komitmen, maka ia akan merasa dapat mengontrol pasangannya melalu kekerasan fisik dengan tujuan untuk menunjukkan dominansinya (Sherer, 2009).

Namun ternyata, ada pula penelitian yang tidak menemukan adanya pengaruh dari lama berpacaran dengan agresivitas terhadap pasangan. Penelitian Smith (2010) terhadap siswa-siswi African-American pada dua sekolah menengah awal yang masing-masing memiliki 700 siswa menunjukkan tidak adanya hubungan antara lamanya berpacaran dengan kekerasan dalam hubungan berpacaran. Hasil yang sama juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh Sherer (2009) pada remaja Arab. Akan tetapi sampel yang digunakan untuk kedua penelitian ini merupakan remaja pada usia sekolah menengah awal yang sebagian besar belum pernah menjalani hubungan berpacaran yang lama. Hal ini tidak dapat dibandingkan dengan hasil penelitian-penelitian sebelumnya yang lebih banyak menggunakan sampel dengan usia sekolah menengah atas dan mahasiswa yang sebagian besar sudah lebih serius dalam menjalani suatu hubungan berpacaran sehingga lamanya hubungan tersebut juga cenderung panjang.

Dari pemaparan di atas, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa benar, semakin lama seseorang berpacaran, maka akan semakin meningkat pula tingkat agresivitas orang tersebut kepada pasangannya. Tingkat agresivitas tersebut dapat dilihat dari perilaku agresif, baik secara fisik, psikologis maupun kekerasan seksual yang ditujukan kepada pasangannya. Fenomena ini pun sudah sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari bahkan telah dibuktikan kebenarannya melalui beberapa penelitian mengenai kekerasan terhadap hubungan berpacaran.

DAFTAR PUSTAKA

Hammock, G. dan O’Hearn, R. (2002). “Psychological Aggression in Dating Relationships: Predictive Models for Males and Females.” Violence and Victims, 17 (5), hlm. 525 – 540.

Huff Post Entertainment. (2009). “Rihanna Bloodied, Beaten, Bitten By Chris Brown”. http://www.huffingtonpost.com/2009/02/09/rihanna-bloodied-beaten-b_n_165474.html (diunduh pada 14 Desember 2011).

Katz, J., Carino, A., dan Hilton, A. (2002). “Perceived Verbal Conflict Behaviors Associated With Physical Aggression and Sexual Coercion in Dating Relationships: A Gender-Sensitive Analysis.” Violence and Victims, 17 (1), hlm. 93 – 109.

Kuffel, S.W. dan Katz, J. (2002). “Preventing Physical, Psychological, and Sexual Aggression in College Dating Relationships.” Journal of Primary Prevention, 22 (4), hlm. 361 – 374.

Rivera, M.S. (2008). “Evaluating Social Learning Theory of Dating Aggression: The Role of Relational Aggression.” Tesis. Tersedia pada Proquest Dissertation and Thesis (PDQT).

Saputra, A. (2011). “Kekerasan dalam Berpacaran: Sambil Menahan Tangis, Leni Baca Pledoi.”  http://www.detiknews.com/read/2011/08/16/000132/1704357/10/sambil-menahan-tangis-leni-baca-pledoi (diunduh pada 14 Desember 2011).

Sherer, M. (2009). “The Nature and Correlates of Dating Violence among Jewish and Arab Youths in Israel.” J Fam Viol, 24, hlm. 11 – 26.

Smith, M. (2010). “How Age of First Dating Experience, Number of Dating Partners, and Length of Relationship Relates to Dating Violence Victimization.” Tesis. Tersedia pada Proquest Dissertation and Thesis (PDQT).

Like this:

LikeLoading...

0 thoughts on “Essay Argumentatif Psikologi Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *